Mengurai Nostalgia Musik Pop Melayu: Pascasarjana UINSU Jadikan Lagu Era 90-an Bahan Kajian Akademis

MEDAN – Lagu-lagu pop Melayu dan slow rock jiran yang mewarnai era 1990-an ternyata bukan sekadar hiburan masa lalu. Musik tersebut menyimpan jejak histori dan ingatan bersama masyarakat yang menarik untuk dibedah secara ilmiah.

Hal tersebut mengemuka dalam forum diskusi “Serumpun Coffee Talk” yang digagas Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan di Teras Literasi kampus setempat, Selasa (15/9).

Suasana hangat dan penuh keakraban langsung terasa saat grup musik lokal Pabolo Entertainment dari Rantauprapat membawakan tembang legendaris “Isabella”. Lagu ciptaan M Nasir dan Bob Lokman yang dipopulerkan grup band Search pada 1989 itu membuat para mahasiswa serta akademisi yang hadir spontan bernyanyi bersama, menciptakan atmosfer nostalgia lintas generasi.

Diskusi interaktif ini menghadirkan narasumber utama yakni Budayawan sekaligus Rektor Universitas Labuhanbatu (ULB), Assoc. Prof. Ade Parlaungan Nasution, Ph.D, serta pengamat dan praktisi industri musik dari ET.45, Hansen Teo. Turut hadir membuka forum, Direktur Pascasarjana UINSU Medan, Prof. Dr. Nurussakinah Daulay, M.Psi., Psikolog, bersama Ketua Prodi S3 Studi Islam UINSU, Dr. Faisal Riza, MA.

Lebih dari Sekadar Nostalgia

Dalam paparannya, Owner ET.45 Hansen Teo mengulas perjalanan industri musik antarnegara serumpun. Ia menyoroti fenomena masuknya karya-karya musik Malaysia ke Indonesia pada dekade 90-an yang kemudian berbalik pada era 2000-an, di mana band-band asal Indonesia ganti merajai pasar musik di Malaysia.

Sementara itu, Rektor ULB Assoc. Prof. Ade Parlaungan Nasution menekankan pentingnya memanfaatkan kedekatan kultural ini untuk langkah nyata ke depan. Menurutnya, kesamaan akar budaya Melayu harus diwujudkan dalam bentuk kerja sama konkrit antar-musisi di kawasan serumpun.

“Indonesia, Malaysia, dan Singapura berbagi akar kebudayaan yang sama. Potensi ini perlu dihidupkan kembali lewat kolaborasi karya, pemanfaatan platform digital, hingga dorongan menghadirkan ragam festival musik serumpun,” ungkap Ade.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya perlindungan terhadap instrumen musik tradisional agar tetap relevan dan diminati oleh generasi muda.

Sudut Pandang Akademis dan Psikologi Sosial

Ketua Prodi S3 Studi Islam UINSU, Dr. Faisal Riza, MA, menilai fenomena meleburnya musik pop Melayu di tengah masyarakat Sumatra Utara merupakan fakta sosiologis yang bernilai tinggi. Musik tidak hanya menembus sekat geografis, tetapi juga berkontribusi membentuk memori kolektif suatu komunitas.

Senada dengan hal itu, Direktur Pascasarjana UINSU Prof. Dr. Nurussakinah Daulay menyebutkan bahwa diskusi semacam ini menjadi media efektif bagi kampus untuk membaca fenomena sosial secara lebih luas dan multidisiplin—baik dari kacamata Studi Islam, Psikologi, maupun Pendidikan.

“Kampus ingin menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak terbatas pada ruang kuliah formal. Percakapan lepas namun berisi seperti ini justru menjadi wadah memupuk rasa ingin tahu akademis dari realitas yang dekat dengan keseharian masyarakat,” jelas Prof. Nurussakinah.