Tulisan ini, mungkin, terlihat ambisius, yang digunakan untuk menarik kompas kajian studi Islam ke arah Barat-Indonesia. Tulisan ini mencoba melakukan kunjungan ulang arkeologi sejarah pengetahuan kita di Sumatra untuk dapat membawa pada pengembangan kajian Islam yang lebih bernuansa dari kajian yang tersedia.
Ketika sejarah Indonesia dibicarakan, perhatian sering kali terlalu cepat diarahkan ke Jawa. Dari kerajaan besar, pusat kekuasaan kolonial, hingga narasi nasionalisme modern, Jawa kerap diposisikan sebagai pusat gravitasi sejarah Nusantara. Dalam kerangka seperti itu, kawasan lain sering hanya tampil sebagai pelengkap atau sekadar pinggiran dari pusat sejarah nasional. Historiografi Indonesia terlalu lama dibangun dalam perspektif daratan, agraris, dan negara-sentris, sehingga kawasan maritim seperti Sumatra sering kali kehilangan posisi strategisnya dalam pembacaan sejarah nasional.
Namun pembacaan seperti itu perlahan digugat oleh sejarawan Anthony Reid. Melalui karya-karyanya tentang Asia Tenggara, Reid memperlihatkan bahwa sejarah Nusantara tidak hanya dibangun dari daratan agraris, tetapi juga dari laut, pelabuhan, perdagangan, dan jaringan peradaban maritim yang luas (Reid, 1988). Dalam perspektif itulah Sumatra Utara menemukan kembali posisi historisnya: bukan sebagai wilayah periferal, melainkan sebagai simpul penting dunia Melayu dan Islam Asia Tenggara.

Gelombang Laut Perjumpaan
Laut bukan sekadar bentang geografis. Laut adalah ruang perjumpaan peradaban. Selat Malaka dan pesisir Sumatra bukan batas yang memisahkan manusia, tetapi jalur yang mempertemukan India, Arab, Persia, Cina, dan dunia Melayu dalam satu arus sejarah yang dinamis (Reid, 1993). Di titik ini, Sumatra Utara menjadi sangat penting. Jauh sebelum Jakarta tumbuh sebagai pusat politik Indonesia modern, pesisir Sumatra telah terhubung dengan jaringan perdagangan global. Barus, misalnya, merupakan salah satu kota pelabuhan tertua di Nusantara yang dikenal dunia karena komoditas kapur barusnya. Nama Barus bahkan telah disebut dalam berbagai sumber Arab, Persia, hingga Mediterania kuno. Hal ini menunjukkan bahwa pantai barat Sumatra bukan ruang terpencil, melainkan bagian dari jalur ekonomi internasional sejak berabad-abad silam (Guillot, 2008).
Pembacaan seperti ini membantu kita memahami bahwa sejarah Indonesia tidak lahir dalam ruang tertutup. Nusantara sejak awal merupakan wilayah terbuka yang dibentuk oleh mobilitas manusia dan perdagangan lintas samudra. Dalam konteks itu, Sumatra Utara merupakan struktur strategis sebagai pintu masuk ide, agama, budaya, dan kekuasaan. Salah satu aspek paling penting dalam pembacaan yang dapat diajukan di sini adalah mengenai Islamisasi Asia Tenggara. Berbeda dengan pandangan lama yang melihat Islamisasi semata sebagai proses dakwah religius, kita mesti membaca Islamisasi sebagai bagian dari transformasi maritim dan kosmopolitanisme perdagangan Samudra Hindia (Reid, 1993). Islam datang ke Nusantara bukan pertama-tama melalui pedalaman, tetapi melalui pelabuhan.
Karena itu kota-kota pesisir seperti Aceh, Barus, dan berbagai bandar di pantai Sumatra menjadi titik awal penting penyebaran Islam di Asia Tenggara. Para pedagang Muslim membawa bukan hanya barang dagangan, tetapi juga bahasa, jaringan intelektual, praktik keagamaan, dan budaya baru. Laut menjadi medium penyebaran agama sekaligus ruang pertukaran peradaban. Sampai di sini, dapat dikatakan bahwa islamisasi Asia Tenggara tidak dapat dipisahkan dari dunia Melayu. Bahasa Melayu berkembang sebagai lingua franca perdagangan dan dakwah. Islam kemudian memberi fondasi spiritual dan politik bagi perkembangan identitas Melayu. Dari sinilah lahir dunia Melayu-Islam yang terhubung dari Aceh hingga Malaka, dari Riau hingga pesisir Kalimantan (Andaya, 2008).
Inklusifitas
Menariknya, studi menunjukkan bahwa identitas Melayu pada masa awal bersifat sangat cair. Melayu bukan identitas rasial yang tertutup, melainkan jaringan budaya yang terbuka terhadap berbagai kelompok. Orang Arab, India Muslim, Bugis, Minangkabau, bahkan komunitas lokal pesisir dapat menjadi bagian dari dunia Melayu melalui bahasa, Islam, dan perdagangan (Reid, 2001).
Di sinilah Sumatra Utara memainkan peran yang sangat penting. Kawasan ini bukan hanya ruang geografis, tetapi laboratorium sejarah tentang bagaimana identitas dibentuk melalui perjumpaan budaya. Medan, pesisir timur Sumatra, dan kawasan Aceh menunjukkan bahwa identitas sosial di Nusantara tumbuh dari mobilitas manusia yang terus berlangsung selama berabad-abad.
Karena itu, membaca Sumatra Utara sesungguhnya berarti membaca sejarah Indonesia dari perspektif laut. Sayangnya, historiografi Indonesia terlalu lama didominasi pendekatan daratan dan negara-sentris. Sejarah lebih sering ditulis dari sudut pandang kerajaan agraris, elite politik, atau pusat kekuasaan negara. Akibatnya, kawasan maritim seperti Sumatra sering diposisikan sekadar pelengkap dari narasi besar nasional. Padahal tanpa memahami Sumatra dan Selat Malaka, sulit memahami bagaimana Indonesia terbentuk.
Bahasa Indonesia sendiri berasal dari bahasa Melayu, bahasa perdagangan yang tumbuh di jalur-jalur maritim Sumatra dan Semenanjung Melayu. Ini menunjukkan bahwa fondasi kultural Indonesia modern sesungguhnya memiliki akar kuat di dunia Melayu pesisir. Dapat diajukan argument bahwa, Asia Tenggara bukan sekadar kumpulan negara bangsa modern, tetapi ruang konektivitas maritim yang telah hidup jauh sebelum kolonialisme Eropa datang. Dalam dunia itu, Sumatra Utara merupakan salah satu titik paling strategis.
Pandangan maritim juga penting untuk membaca kondisi kontemporer Indonesia. Di tengah menguatnya politik identitas dan eksklusivisme agama, sejarah Islam Melayu yang ditunjukkan banyak kajian justru memperlihatkan watak Islam yang terbuka dan kosmopolitan. Islam berkembang melalui dialog budaya, bukan isolasi. Laut membentuk mentalitas keterbukaan karena pelabuhan selalu mempertemukan manusia yang berbeda bahasa, etnis, dan keyakinan. Karena itu Islam Melayu awal memiliki karakter yang lentur dan adaptif. Ia mampu berdialog dengan budaya lokal tanpa kehilangan inti spiritualnya. Ini berbeda dengan kecenderungan sebagian gerakan keagamaan kontemporer yang sering memandang identitas secara sempit dan hitam-putih.
Identitas besar tidak lahir dari kemurnian, melainkan dari perjumpaan. Islam Asia Tenggara tumbuh bukan melalui tembok eksklusivisme, tetapi melalui jaringan perdagangan, migrasi, dan pertukaran budaya yang luas. Dan Sumatra Utara merupakan salah satu ruang paling penting dari proses sejarah tersebut.
Mungkin karena itu, penting meneguhkan reposisi Sumatra Utara sebagai titik awal dan pusat historiografi Islam Indonesia. Ambisi ini mungkin saja dapat mengubah cara kita memahami diri kita sendiri. Ia membantu mengembalikan Sumatra Utara dari posisi “daerah luar” menjadi pusat penting sejarah Asia Tenggara. Lebih dari itu, kajian-kajian laut sesungguhnya adalah fondasi utama peradaban Nusantara. Laut menyatukan pelabuhan-pelabuhan, menghubungkan manusia lintas etnis, dan membentuk dunia Melayu-Islam yang kosmopolitan. Dari laut itulah lahir bahasa, perdagangan, agama, dan identitas yang kemudian membentuk Indonesia modern. Sejarah Nusantara dibangun bukan oleh ketertutupan, tetapi oleh keterbukaan terhadap dunia luar, dan mungkin, dari situlah Sumatra Utara menemukan makna historisnya yang paling dalam yaitu sebagai ruang perjumpaan Islam, Melayu, dan laut dalam perjalanan panjang Asia Tenggara.
Faisal Riza (Ketua Prodi Studi Islam (S3) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara).