Hampir setiap sore, sepulang kerja, saya bersama beberapa teman ngopi di warung sekitaran kampus, sambil menunggu macet mereda di jalan, juga berbincang apa saja yang menggelisahkan. Satu di antaranya, Adalah tentang dunia yang kami tekuni yaitu dunia akademik.
Kegelisahan umumnya, kampus hari ini tampak sangat hidup tapi terasa ada yang kurang. Setiap semester, rutinitas seminar diselenggarakan, konferensi internasional dipromosikan melalui media sosial, publikasi ilmiah terus meningkat, gedung baru dibangun, Guru besar bertambah, sistem digital kampus semakin canggih. Selain itu, administrasi akademik bergerak cepat dan rapi, universitas berlomba mengejar ranking global dan akreditasi internasional. Kalau ditengok dari luar berjarak, dunia akademik tampak sedang berada pada puncak kemajuannya.
Namun di balik semua keramaian itu, ada satu pertanyaan yang semakin mengganggu: mengapa kampus justru terasa semakin sepi dari gagasan besar? Aktivitas akademik meningkat, tetapi keberanian intelektual menurun. Orang-orang semakin sibuk menulis, tetapi semakin sedikit tulisan yang benar-benar mengguncang kesadaran publik. Kampus ramai dengan acara, tetapi miskin perdebatan mendalam. Dosen mengejar publikasi, mahasiswa mengejar sertifikat, universitas mengejar ranking tetapi ilmu pengetahuan perlahan kehilangan daya reflektifnya.
Zombie Akademik
Istilah “zombie” berasal dari tradisi spiritual Afro-Karibia, terutama dalam budaya Haiti, yang dipengaruhi oleh warisan kepercayaan Afrika Barat dan praktik Vodou. Dalam mitologi Haiti, zombie bukan sekadar monster pemakan manusia seperti dalam film modern, melainkan sosok manusia yang kehilangan kehendak dan kesadarannya setelah dikendalikan oleh kekuatan lain. Ia hidup secara biologis, tetapi mati secara spiritual dan sosial.
Konsep ini lahir dari pengalaman historis kolonialisme dan perbudakan di Karibia, ketika manusia dipaksa bekerja secara mekanis, kehilangan kebebasan, identitas, dan otonomi dirinya. Karena itu, zombie awalnya adalah simbol keterasingan dan dehumanisasi akibat sistem penindasan. Dalam perkembangan budaya populer Barat, terutama sejak film Night of the Living Dead karya George A. Romero, zombie kemudian berubah menjadi metafora sosial tentang masyarakat modern yang kehilangan kesadaran kritis, bergerak massal tanpa refleksi, dan hidup dalam mekanisme konsumsi serta kepatuhan kolektif.
Dalam konteks pendidikan tinggi, metafora itu dipakai untuk merefleksikan dan menjelaskan kampus yang masih aktif secara administratif, tetapi mengalami “kematian hidup” secara intelektual. Buku Zombies in the Academy: Living Death in Higher Education menyebut bahwa universitas modern sedang bergerak menuju situasi “living death”. Kampus masih berdiri megah, aktivitas akademik tetap berjalan, jurnal terus diterbitkan, tetapi daya kritis dan imajinasi intelektualnya perlahan melemah. Yang hidup adalah sistemnya, sementara ruh keilmuannya mulai mengering.
Kritik ini terasa semakin relevan ketika kita melihat bagaimana kampus modern perlahan berubah menjadi institusi yang sangat birokratis. Pengetahuan tidak lagi selalu dipahami sebagai proses pencarian makna, melainkan sebagai produksi output. Akademisi dinilai melalui angka seperti jumlah publikasi, indeks sitasi, skor kinerja, target penelitian, dan beban administrasi. Dalam sistem seperti ini, ilmu perlahan kehilangan dimensi kontemplatifnya. Kampus akhirnya menjadi sangat sibuk, tetapi tidak selalu benar-benar berpikir.
Mesin Akademik
Salah satu persoalan paling mendasar dalam dunia akademik hari ini adalah perubahan orientasi universitas. Dahulu kampus dibayangkan sebagai ruang pencarian kebenaran, tempat lahirnya kritik sosial, dan arena pergulatan pemikiran. Universitas bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga tempat manusia belajar mempertanyakan dunia.
Kini, perlahan-lahan, universitas bergerak menjadi mesin administrasi pengetahuan. Logika neoliberalisme telah mengubah kampus menjadi institusi managerial. Bahasa akademik mulai digantikan oleh bahasa korporasi: efisiensi, performa, target, produktivitas, branding, kompetisi, unggul. Universitas tidak lagi terutama diukur melalui kualitas percakapan intelektualnya, tetapi melalui indikator-indikator kuantitatif.
Akademisi akhirnya hidup di bawah tekanan budaya “publish or perish”: menulis dan menerbitkan artikel atau tersingkir. Dalam kondisi seperti itu, publikasi sering berubah menjadi aktivitas mekanis. Artikel ditulis demi kenaikan pangkat. Penelitian dilakukan demi laporan administrasi. Seminar diselenggarakan demi dokumentasi dan sertifikat. Bahkan diskusi akademik kadang terasa lebih sibuk membicarakan teknis indeks jurnal dibanding substansi gagasan itu sendiri. Kita akhirnya menyaksikan fenomena yang ironis yaitu tulisan akademik semakin banyak, tetapi pemikiran segar semakin langka. Pengetahuan diproduksi seperti barang pabrik.
Hal yang lebih problematis adalah ketika mahasiswa juga mulai diposisikan sebagai “konsumen pendidikan”. Kampus menjadi penyedia layanan, sementara mahasiswa dianggap pelanggan yang harus dipuaskan. Relasi intelektual berubah menjadi relasi transaksional. Pendidikan dipahami sebagai investasi ekonomi semata, bukan lagi proses pembentukan kesadaran. Dalam situasi demikian, dosen tidak hanya dituntut mengajar, tetapi juga menjaga “kepuasan pelanggan”. Kampus sibuk membangun citra dan reputasi pasar. Ruang akademik perlahan kehilangan keberanian untuk menghadirkan ketidaknyamanan intelektual, padahal ilmu pengetahuan justru tumbuh dari pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu kenyamanan.
Akibatnya, banyak universitas hari ini tampak sangat modern secara infrastruktur, tetapi rapuh secara intelektual. Kita memiliki gedung megah, tetapi miskin tradisi debat. Kita memiliki ribuan publikasi, tetapi sedikit gagasan yang benar-benar membantu masyarakat memahami zamannya. Kampus menjadi ruang yang aktif secara prosedural, tetapi pasif secara reflektif. Padahal sejarah menunjukkan bahwa universitas besar lahir bukan dari budaya administratif, melainkan dari keberanian berpikir. Kampus pernah menjadi ruang lahirnya gerakan sosial, kritik politik, teori-teori besar, dan transformasi peradaban. Banyak perubahan dunia bermula dari ruang-ruang akademik yang hidup secara intelektual.
Tetapi hari ini, sebagian kampus justru tampak takut pada kegelisahan. Budaya formalitas lebih dominan daripada budaya dialog. Jabatan akademik menjadi tujuan akhir, padahal seharusnya ia hanya konsekuensi dari pengabdian intelektual yang panjang. Profesor adalah posisi administratif akademik. Sementara intelektual adalah keadaan jiwa.
Krisis Makna
Pertanyaannya kemudian, ngapain rupanya para dosen akademisi ilmuwan yang ada di dalam? Apa para professor doktor itu tidak resah dan gelisah dengan keadaan ini? Fenomena zombie akademik sebenarnya bukan sekadar kritik terhadap individu dosen yang malas atau tidak produktif. Dalam artikel Academic Zombies: A Failure of Resistance or a Means of Survival?, Suzanne Ryan justru melihat zombie akademik sebagai bentuk survival dalam sistem pendidikan tinggi modern yang sangat melelahkan.
Jadi, banyak akademisi sesungguhnya sadar bahwa dunia kampus sedang bergerak terlalu birokratis dan kompetitif. Mereka menghadapi audit tanpa akhir, tekanan publikasi, beban administrasi, evaluasi permanen, dan ketidakpastian karier. Dalam situasi seperti itu, banyak dosen akhirnya bekerja secara otomatis demi bertahan hidup. Apa lagi, dosen yang banyak cicilan bulanan. Kalau mereka terlihat disiplin kerja, itu dapat dikatakan bukan karena etos akademik, tapi takut dipecat, takut tak naik jabatan, dan itu berarti tidak bisa bayar cicilan, terus orang yang di rumah makan apa?.
Maka yang terjadi adalah dosen mengajar tanpa gairah, menulis tanpa keterlibatan batin, membaca tanpa rasa ingin tahu, mereka hadir di ruang kelas dan seminar, tetapi kehilangan hubungan emosional dengan ilmu yang mereka tekuni, malah ada yang lebih simple lagi, dosen hadir di acara karena mau kasih wajah kepada pimpinan. Di titik inilah zombie akademik menjadi gejala alienasi.
Dalam konteks inilah alienasi terjadi, ketika manusia terasing dari makna pekerjaannya sendiri. Dunia akademik modern memperlihatkan gejala itu secara sangat jelas. Banyak dosen tidak lagi merasakan ilmu sebagai panggilan intelektual, melainkan sekadar rutinitas profesional. Kampus berubah menjadi tempat kerja administratif, bukan lagi ruang pencarian makna. Yang paling mengkhawatirkan sebenarnya bukan kelelahan fisik akademisi, melainkan matinya rasa ingin tahu. Sebab universitas hanya akan hidup jika orang-orang di dalamnya masih memiliki kegelisahan intelektual. Ketika dosen tidak lagi membaca di luar kewajiban, ketika mahasiswa belajar hanya demi nilai, ketika penelitian dilakukan hanya demi hibah, dan ketika seminar lebih ramai dokumentasi daripada perdebatan, maka kampus perlahan kehilangan jiwanya. Kita akhirnya menghasilkan banyak informasi, tetapi sedikit kebijaksanaan.
Fenomena ini juga menjelaskan mengapa kampus sering terasa jauh dari problem masyarakat. Di tengah krisis ekologis, polarisasi politik, ketimpangan sosial, disrupsi digital, dan konflik identitas, universitas sering tampak sibuk dengan urusan internal birokratisnya sendiri. Penelitian banyak diproduksi, tetapi sedikit yang benar-benar hadir di ruang publik dan membantu masyarakat memahami perubahan zaman. Kampus menjadi dunia yang terpisah dari denyut sosial.
Padahal, ilmu pengetahuan seharusnya bukan sekadar aktivitas profesional, tetapi usaha memahami kehidupan manusia secara lebih mendalam. Karena itu, kritik terhadap zombie akademik sejatinya bukan kritik yang anti-kampus. Sebaliknya, ia merupakan panggilan untuk mengembalikan universitas kepada ruh intelektualnya. Kampus harus kembali menjadi ruang yang memungkinkan manusia berpikir bebas, merawat kegelisahan, dan mempertanyakan realitas. Universitas tidak boleh hanya menjadi pabrik gelar atau industri publikasi. Ia harus menjadi tempat lahirnya kesadaran.
Kampus yang sehat bukanlah kampus yang paling ramai acaranya, melainkan kampus yang paling hidup percakapan intelektualnya. Universitas tidak cukup hanya menghasilkan lulusan, sertifikat, dan dokumen akademik. Yang jauh lebih penting adalah apakah kampus masih mampu melahirkan manusia-manusia yang berpikir kritis, memiliki imajinasi moral, dan berani membaca zamannya secara mendalam.
Sebab peradaban tidak berubah hanya karena banyaknya administrasi pengetahuan. Peradaban berubah karena lahirnya gagasan-gagasan yang hidup. Dan gagasan tidak lahir dari budaya akademik yang sepenuhnya mekanis. Ia lahir dari keberanian berpikir, kebebasan intelektual, tradisi membaca yang mendalam, dan ruang dialog yang sehat. Ia tumbuh dari manusia-manusia yang masih memiliki rasa ingin tahu terhadap dunia.
Karena itu, tantangan terbesar universitas hari ini bukan sekadar meningkatkan ranking global atau memperbanyak publikasi ilmiah. Tantangan terbesarnya adalah menghidupkan kembali jiwa intelektual kampus. Sebab tanda paling jelas dari matinya sebuah universitas bukan ketika gedungnya runtuh, melainkan ketika orang-orang di dalamnya tidak lagi memiliki kegelisahan untuk memahami dunia.
Faisal Riza (Dosen UIN Sumatera Utara)